Productivity

Do’s and Dont’s dalam Penggunaan 5 Why’s dan Fishbone Diagram

Stefanus Rantetondok
14 April 2026
Do’s and Dont’s dalam Penggunaan 5 Why’s dan Fishbone Diagram

Bagikan Artikel

Fishbone Diagram (Ishikawa) dan 5 Why termasuk yang paling sering digunakan dalam praktik Quality Management dan Continuous Improvement. Diagram fishbone membantu memetakan berbagai kategori penyebab secara visual, sedangkan 5 Why menggali kedalaman masalah dengan pertanyaan berulang “Mengapa?”. Kombinasi yang baik dari keduanya menolong tim menemukan akar penyebab masalah yang sesungguhnya, sehingga corrective action yang diambil lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

Beberapa do's dan don't yang penting diperhatikan pada saat menggunakan tools ini.

Do’s (Hal yang Harus Dilakukan)

  • Definisikan masalah dengan jelas
    Problem statement harus spesifik mencakup what, when, where, magnitude problem
  • Libatkan tim lintas fungsi
    Perspektif dari berbagai departemen memperkaya analisis dan mengurangi bias.
  • Lakukan breakdown kategori Fishbone secara sistematis
    Pastikan kategori yang digunakan mutually exclusive (tidak tumpang tindih) dan collectively exhausted (mencakup semua kemungkinan). Dengan demikian, analisis lebih terstruktur dan tidak ada penyebab yang terlewat atau bercampur. Umumnya digunakan kategori 5M (Man, Machine, Method, Measurement, Material) yang memenuhi prinsip "tidak tumpang tindih" dan "mencakup semua kemungkinan"
  • Gunakan Fishbone untuk brainstorming, lalu 5 Why untuk pendalaman
    Fishbone memetakan kategori penyebab, 5 Why's menggali akar penyebab masalah dari faktor dominan.
  • Validasi akar penyebab masalah dengan data atau eksperimen kecil
    Pastikan akar penyebab masalah tervalidasi sebelum corrective action dijalankan.

Don’ts (Hal yang Harus Dihindari)

  • Jangan lakukan analisis sendirian
    Tools ini dirancang untuk kolaborasi tim, bukan individu.
  • Hindari membuat kesimpulan terlebih dahulu lalu menggunakan Fishbone atau 5 Why's hanya untuk membuktikan kesimpulan tersebut.
    Analisis harus terbuka, objektif, dan berbasis data, bukan sekadar menjustifikasi hipotesis awal
  • Jangan lupa menindaklanjuti dengan corrective action yang terukur
    Analisis tanpa aksi hanya menghasilkan dokumen, bukan perbaikan nyata.
  • Jangan salah fokus pada gejala, bukan akar penyebab masalah
    Misalnya menyalahkan operator, padahal akar penyebab masalah bisa berupa sistem training atau instruksi kerja.